Kamis, 20 Maret 2014

SEJARAH PUSDIK SABHARA PORONG

Pusdik Gasum Porong Cikal Bakal Brimob





Sejarah Perjalanan Brimob tak bisa lepas dari Pusdik Gasum Porong
Pada tahun 1952 bekas pabrik gula Porong yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1926 (sekarang masuk wilayah Sidoarjo) dibeli oleh Kepala Kepolisian Negara RI seharga Rp. 1.218.970 (satu juta dua ratus delapan belas ribu sembilan ratus tujuh puluh ribu rupiah), kemudian ditempati Kompi 5165 Mobrig, pada tahun yang sama oleh Soekarno Djojonegoro Kepala Komando Daerah Kepolisian X Jatim digunakan sebagai Pusat Pendidikan Ulangan Kepolisian (PPUPK)
Komandan Pusdik waktu itu dijabat antara lain oleh KP Ciptodipuro, KP Suprapto dan KP Sukaris.Berdasarkan Nota Kepala Kepolisian Negara bagian Inspeksi Brigade No. 2/8/X tanggal 21 Agustus 1953, berisi tentang peningkatan mutu Mobile Brigade, satu-satunya jalan untuk meningkatkan mutu Mobrig adalah dengan menyempurnakan pusat pendidikan yang sudah ada.
Untuk merealisasikan perintah diatas maka dibentuklah Panitia Pendidikan, yang kemudian Panitia Pendidikan ini menyampaikan suratnya kepada Kepala Bagian Inspeksi Mobile Brigade sebagai berikut : Surat Panitia Pendidikan No. 9/1953 tanggal 2 September 1953 tentang rencana melengkapi Porong sebagai pusat Pendidikan Mobile Brigade, Suarat-surat itu kemudian diperbaharui dengan surat-surat berikut :
1. SK Panitia Pendidikan No. 10 /1953 tanggal 4 September 1953 2. SK Pembaharuan No. 15/1953 tanggal 2 Oktober 1953 3. SK No. 22/1953 tanggal 3 November 1953
Usul diatas oleh Kepala Bagian Inspeksi Mobile Brigade diteruskan kepada Kepala Kepolisian Negara dengan surat No. Pol 73/1/1/Lmb tanggal 18 januari 1954. Ternyata perluasan usul Porong sebagai Pusat Pendidikan Mobile Brigade diterima sesuai dengan rencana Perluasan Mobile Brigade 12 Kompi.
Persetujuan penerimaan Porong sebagai salah satu Pusdik berdasarkan Surat Keputusan Perdana Menteri RI No. 20/15/54/PM, tanggal 28 Januari 1954, tentang berdirinya Sekolah Pendidikan Mobile Brigade (SPMB) di Porong. Akhirnya pada tanggal 10 Juni 1954 SPMB Porong diresmikan oleh Kapolri saat itu Jendral Polisi R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo. (Prasasti peresmian masih menempel di dinding Gedung Tri Brata (Tribrata) Pusdik Gasum Porong / Pusdik Sabhara Polri Porong / Pusdik Brimob Porong .
Pada tanggal 14 November 1964 bersamaan dengan HUT Mobrig ke 16, nama Mobil Brigade berubah menjadi Brigade Mobil (Brimob ) begitu juga nama Pusdik mengikuti menjadi Pusdik Brimob.
Berdasarkan Suarat Keputusan Danjen Kobangdiklat Polri No. Pol : Skep/ 2954/VI/1975 tanggal 30 Juni 1975 Pusdik Brimob berganti nama menjadi Pusdik Operasional Polri atau Pusdik Opsnil Polri, saat itu komandan Pusdik dijabat oleh Kolonel Polisi R.A.S marta Adi Subrata.
Karena perkembangan Pusdik Opnil berkembang pesat maka pada tanggal 23 Agustus 1978 berdasarkan Skep Komandan Jendral Komando Pengembangan Pendidkan dan Latihan Polri No. 484/VIII/1978 Pusdik Opnil Polri dipecah menjadi dua sebagai berikut :
  1. Pusat Pendidikan Umum Polri disingkat Pusdik Um Polri berkedudukan di Porong dengan Komandan Pusdik Letkol Polisi Moch Saleh berkedudukan di Porong Sidoarjo
  2. Pusat Pendidikan Brigade Mobil disingkat Pusdik Brimob Polri berkedudukan di Watukosek Pasuruan dengan Komandan Pusdik Letkol Polisi S. Hadi Soetrisno, peresmian dilaksanakan bertepatan HUT Brimob ke 32 dengan Irup Kapolri Jendral Pol. Awaloedin Djamin
Sejak saat itu telah terjadi beberapa perubahan nama antara lain Pusdik Sabhara Polri dan terakhir adalah Pusat Pendidikan Tugas Umum (Pusdik Gasum). Pengabdian selama bertahun tahun dapat kiranya menjadi sebuah kebanggan, terutama dalam mencetak anggota Polri yang mahir terpuji dan patuh hukum.

(disarikan dari buku 50 tahun Pusdik Brimob : 2004)
di sadur dari postingan Alumni PUSDIK PORONG TH 2001

Menjadi seorang penegak hukum sama beratnya dengan tugas seorang Kyai atau Ustad. Harus berani menyampaikan mana yang benar dan mana yang salah.

Lebih banyak orang yang membenci dari pada yang memuji. Disaat Polisi berbuat sedikit kesalahan semua akan mencibir, mencaci dan memaki, tapi suatu saat Polisi berhasil dalam tugas, mereka hanya berkata ... WAJAR DONG ITU KAN SUDAH MENJADI TUGASNYA ....

IKHLAS ... itu yang harus kita tanamkan dalam diri kita ... sebagai seorang insan Bhayangkara ... Gaji kecil, fasilitas minim SUDAH MENJADI RESIKO BAGI KITA YANG MEMILIH POLISI SEBAGAI PROFESI.

Aku bangga menjadi Polisi ... Aku tidak perduli dengan perkataan orang ataupun pandangan miring mereka tentang Polisi...

Anakku bangga melihat ayahnya seorang Polisi ... dia tersenyum manis kepadaku disaat aku sedang bercermin, saat aku akan menggunakan pakaian dinas Polisi.

Senyum manis anak ku merupakan semangat dan doa didalam mengabdikan jiwa dan ragaku kepada bangsa dan tanah air ...

Disaat sebagian orang membenci Polisi .... Masih banyak orang yang merindukan kehadiran Polisi....

POLISI dibenci tapi dirindu .....

Jayalah selalu POLRI, Jayalah Polisi Indonesia .....


Tulis E-mail untukku