Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surabaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Oktober 2025

Lucas Martin Sarkies – Sang Visioner di Balik Hotel Majapahit Surabaya (1910)

Oleh: Eko WKS
(Baraya Heritage – Nge-blog Tipis-tipis Versi Lapangan)





Jejak Elegansi dari Julfa ke Surabaya

Assalamualaikum Baraya…

Hari ini, saya menjejakkan kaki di Pemakaman Kembang Kuning, Surabaya, sebuah kompleks sunyi yang menyimpan kisah luar biasa tentang dunia perhotelan kolonial.
Di sinilah bersemayam Lucas Martin Sarkies sosok visioner yang membawa kemewahan Eropa ke jantung kota pelabuhan Surabaya lewat mahakaryanya: Hotel Majapahit, atau yang dulu dikenal sebagai Hotel Oranje.

Kisah keluarga Sarkies dimulai jauh di kawasan Julfa, Isfahan (Persia), tempat komunitas Armenia telah lama dikenal sebagai perantau dan pedagang ulung. Dari sanalah keluarga ini merantau ke Asia Tenggara, menapaki jejak kolonial Inggris dan Belanda.
Empat bersaudara Martin, Tigran, Aviet, dan Arshak Sarkies, menjadi legenda di dunia perhotelan kolonial dengan membangun jaringan hotel termewah di kawasan Asia.

Dinasti Hotel Sarkies Brothers

Mereka mendirikan hotel-hotel yang hingga kini menjadi ikon sejarah:

Raffles Hotel Singapore (1887) – simbol elegansi kolonial di jantung kota Singapura.

The Strand Hotel Yangon (1901) – kemegahan arsitektur Victoria di tepi Sungai Yangon, Myanmar.

Eastern & Oriental Hotel Penang (1885) – permata kolonial di Selat Melaka.

Dan akhirnya, Hotel Oranje Surabaya (1910) proyek pribadi Lucas Martin Sarkies, anak dari Martin Sarkies, yang menjadi mahakarya keluarga ini di Hindia Belanda.

Hotel Oranje Kemewahan di Kota Pelabuhan

Ketika Surabaya tumbuh sebagai kota dagang dan pelabuhan utama di awal abad ke-20, Lucas Martin melihat peluang besar: kota ini butuh tempat singgah bagi para saudagar Eropa, pejabat kolonial, dan penjelajah dari Asia.
Pada tahun 1910, ia membangun Hotel Oranje di Jalan Tunjungan kawasan paling bergengsi di Surabaya kala itu.

Bangunan bergaya kolonial-Eropa klasik dengan pilar putih tinggi, koridor panjang, jendela lebar, dan halaman dalam yang rindang.
Arsitekturnya memadukan keteraturan Belanda dengan nuansa tropis Hindia.
Bagian dalamnya penuh detail artistik: lampu gantung perunggu, tegel motif geometris, dan langit-langit tinggi yang memberi kesan mewah tapi menenangkan.

Tak lama kemudian, Hotel Oranje menjadi simbol kemewahan dan pusat kehidupan sosial masyarakat kolonial.
Di sini berlangsung jamuan, pesta dansa, hingga pertemuan politik penting di masa menjelang kemerdekaan.


Dari Hotel Oranje ke Hotel Majapahit

Nama Hotel Oranje berubah menjadi Hotel Majapahit setelah masa kemerdekaan.
Namun, sejarahnya tak bisa dilepaskan dari peristiwa heroik 1945, ketika para pemuda Surabaya menurunkan bendera Belanda di atap hotel ini sebuah momen penting dalam “Insiden Tunjungan” yang memicu Pertempuran 10 November.

Hotel ini pun bukan sekadar penginapan, tapi saksi bisu perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan.
Dari sinilah warisan Lucas Martin Sarkies menembus batas waktu dari masa kolonial hingga kini menjadi ikon heritage nasional.


Kembang Kuning – Peristirahatan Terakhir

Kini, di kompleks Pemakaman Kembang Kuning, nama Lucas Martin Sarkies masih tertulis samar di nisan granit tua.
Tulisan aslinya sudah memudar, tetapi di sekitarnya masih ada makam keluarga Charlotta J.E. Sarkies Heyligers, istrinya yang wafat tragis di kamp Banjoebiroe (Ambara) tahun 1945, dan Betsy Sarkies (van Hoen) yang juga dimakamkan di kompleks yang sama.

Ketika saya berdiri di sana, di bawah pohon kamboja yang rontok bunganya, saya merasa seperti sedang berbicara dengan masa lalu.
Nama yang pudar di batu, tapi abadi di setiap pilar hotel yang masih berdiri gagah di Tunjungan.



Jejak Sarkies di Asia Tenggara

Kisah keluarga Sarkies membentuk jaringan elegansi di Asia Tenggara dari Raffles Singapore yang masih memancarkan pesona kolonial, ke The Strand Yangon yang tetap mempertahankan kemegahan Victoria, dan Hotel Majapahit Surabaya, simbol perpaduan antara sejarah dan kebanggaan bangsa.

Dari Julfa – Penang – Singapore – Yangon – Surabaya, keluarga ini meninggalkan bukan sekadar bangunan, tetapi cerita tentang cita rasa, budaya, dan pertemuan Timur dan Barat.

Penutup

Saya hanyalah penikmat bangunan tua dan cerita yang tersisa.

Dari makam yang sunyi hingga hotel yang megah, semua menyimpan jejak manusia yang mencintai keindahan dan peradaban.

Jangan Menua Tanpa Cerita – bersama saya, Eko WKS.

Surabaya, Rabu, 22 Oktober 2025








Senin, 27 Oktober 2025

Alfred Emile Rambaldo – Pionir Balon Udara Pertama di Hindia Belanda

Oleh: Eko WKS





Dari Rembang Menuju Langit

Nama Alfred Emile Rambaldo mungkin tidak banyak dikenal, namun jejaknya begitu penting dalam sejarah penerbangan di Nusantara.
Lahir di Rembang, 16 November 1879, ia adalah seorang Letnan Laut Kelas Dua Angkatan Laut Kerajaan Belanda (K.N.M.) yang menaruh minat besar pada dunia penerbangan — sesuatu yang pada masa itu masih dianggap mustahil.

Awal abad ke-20 adalah masa penuh eksperimen dan keberanian.  Di Eropa, para penemu seperti Wright bersaudara dan Zeppelin mulai menaklukkan langit. Dan di Hindia Belanda, seorang perwira muda bernama Rambaldo mencoba membawa semangat itu ke tanah jajahan di timur jauh.






Penerbangan dari Soerabaya

Tahun 1911, Rambaldo mempersiapkan sebuah penerbangan balon udara di Soerabaya. Foto langka menunjukkan ia berdiri di samping keranjang balon, dengan wajah tenang dan penuh rasa ingin tahu. Hari itu, langit Surabaya menjadi saksi dari sebuah eksperimen berani penerbangan balon udara pertama di Hindia Belanda.

Namun takdir berkata lain.
Angin kencang membawa balonnya menjauh ke barat, melintasi dataran Jawa Timur menuju Jawa Tengah. Pada 5 Agustus 1911, balon itu akhirnya jatuh di hutan jati Desa Nglebur, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora. Rambaldo gugur di usia 31 tahun, setelah terjatuh dari ketinggian sekitar 10 meter saat mencoba menyelamatkan diri dari keranjang balon yang tersangkut di pepohonan.




Nglebur – Di Tengah Hutan Jati Blora

Hutan Jiken di Blora terkenal lebat dan sunyi. Bayangkan suasananya lebih dari seratus tahun silam udara tipis, aroma getah jati, dan di atas pepohonan tinggi itu sebuah balon udara terjerat di antara dahan. Penduduk desa datang dengan rasa ingin tahu, tak menyangka bahwa di tengah rimba itu mereka menemukan seorang perwira penerbang dari negeri jauh.

Peristiwa itu kemudian dicatat dalam berbagai laporan kolonial sebagai kecelakaan balon udara pertama di Hindia Belanda sekaligus menandai berakhirnya perjalanan sang pionir dari Rembang.




Dari Laut ke Langit

Kisah Alfred Rambaldo tidak berdiri sendiri. Kakeknya, J. Rambaldo, adalah seorang Kapten Angkatan Laut Belanda bergelar kehormatan Ridder der Eikenkroon (Ksatria Orde Mahkota Ek). Dua generasi keluarga ini sama-sama hidup di bawah semangat penjelajahan sang kakek di lautan, sang cucu di udara.

Kini, keduanya dimakamkan berdampingan di kompleks pemakaman Kembang Kuning, Surabaya, dalam sebuah nisan marmer dengan tulisan Belanda:

“Grondlegger der Luchtvaart in Nederland en in zijne koloniën.”
Artinya: “Perintis dunia penerbangan di Belanda dan di koloninya.”

Kalimat itu menjadi penegasan bahwa sejarah penerbangan di Indonesia dimulai jauh sebelum hadirnya bandara modern dan pesawat bermesin logam.



Langit Tak Pernah Melupakan

Nama Alfred Emile Rambaldo kini jarang disebut, namun kisahnya tetap abadi. Ia bukan hanya perwira laut atau penjelajah langit, melainkan simbol keberanian manusia yang menolak berhenti bermimpi.
Lebih dari seabad setelah jatuhnya balon itu di Blora, kita masih bisa menelusuri jejaknya dari lapangan Soerabaya, hutan jati Nglebur, hingga batu nisan tua di Kembang Kuning.
Setiap tempat menyimpan serpih kisah tentang seorang lelaki muda yang berani menembus batas antara laut dan langit.


Penutup

Setiap langkah, bahkan yang menembus langit, selalu meninggalkan jejak di bumi tempat ia berpijak.



Jangan Menua Tanpa Cerita – Eko WKS
Surabaya, Rabu, 22 Oktober 2025


📍 Jejak Sejarah:

1. Soerabaya – Lokasi lepas landas penerbangan 1911

2. Desa Nglebur, Kec. Jiken, Kab. Blora – Lokasi jatuhnya balon udara

3. Kompleks Pemakaman Kembang Kuning, Surabaya – Tempat peristirahatan Alfred Emile Rambaldo dan keluarganya (Rabu, 22 Oktober 2025)






Kamis, 23 Oktober 2025

GERBANG KEMBANG KUNING - PINTU SUNYI KOTA SURABAYA

Oleh: Eko WKS
(Baraya Heritage – Nge-blog Tipis-tipis Versi Lapangan)




Jejak Awal di Kembang Kuning

Pagi itu, langkah kaki saya berhenti di depan sebuah gerbang tua berwarna putih kusam di kawasan Kembang Kuning, Surabaya.
Sekilas tampak biasa saja — namun dari lengkung besar dan bentuk atap pelananya, terlihat jelas jejak arsitektur kolonial yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk kota modern.


Inilah pintu masuk ke salah satu kompleks pemakaman tertua di Surabaya, yang dulu dikenal dengan nama Begraafplaats Kembang Koening.
Nama yang berasal dari masa Hindia Belanda, ketika kawasan ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi warga Eropa dan Indo-Eropa yang menetap di kota pelabuhan terbesar di Jawa Timur ini.

Boulevard Menuju Keabadian


Jika menelusuri foto-foto lama dari awal abad ke-20, jalan menuju gerbang ini dulu tampak menawan.
Sebuah boulevard panjang diapit deretan pohon pinus tinggi, membentuk lorong alami menuju gerbang besar di ujungnya.
Gerbang ini bergaya Neo-Gotik sederhana tanpa ornamen berlebihan, hanya lengkung besar, dinding tebal, dan salib kecil di puncaknya.
Sebuah simbol arsitektur yang tegas, namun sarat makna: pintu antara kehidupan dan keabadian.

Lewat gerbang inilah dahulu keluarga Belanda, pejabat kolonial, dan warga Indo-Eropa datang menghantarkan kepergian orang-orang terkasih.
Suasana yang hening, teratur, dan penuh penghormatan yang sangat berbeda dengan kondisi sekarang yang lebih padat dan riuh kendaraan.

Nama-nama di Balik Gerbang

Tak banyak yang tahu, di balik gerbang ini bersemayam tokoh-tokoh penting dalam sejarah Surabaya.


Salah satunya adalah Cornelis Citroen, arsitek asal Belanda yang merancang sejumlah bangunan ikonik seperti Lawang Sewu di Semarang dan Rumah Dinas Wali Kota Surabaya.
Lalu ada G. H. von Faber, seorang wartawan sekaligus sejarawan yang banyak menulis tentang kehidupan masyarakat Surabaya di masa kolonial.


Dan tak jauh dari situ, terdapat makam para awak pesawat Dornier Wal G-26 yang gugur dalam kecelakaan tragis pada tahun 1930-an dan kisah mereka pernah menjadi berita besar di masa itu.

Setiap nisan, setiap huruf nama, adalah potongan kecil dari mozaik sejarah kota ini.
Dan semuanya bermula dari gerbang yang masih berdiri di depan saya sebagai saksi bisu yang menahan waktu agar cerita tak menguap begitu saja.

Kembang Kuning Hari Ini


Kini suasananya telah berubah.
Pepohonan rindang di jalan masuk sudah lama menghilang.
Di kanan kiri gerbang terparkir deretan motor dan mobil, seolah melingkupi sunyi masa lalu dengan riuh modernitas.

Namun jika diperhatikan baik-baik, masih ada nuansa yang sama:
keheningan yang samar, aroma tanah tua, dan guratan cat yang mengelupas dan seakan ingin bercerita bahwa bangunan ini telah melewati banyak musim, tapi tetap setia menjaga rahasianya.

Bagi saya, gerbang Kembang Kuning bukan sekadar pintu makam,
tapi pintu waktu yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan kenangan yang belum selesai.


Refleksi Kecil


Berdiri di depannya, saya membayangkan derap langkah para pelayat tempo dulu, bunyi roda kereta kuda, dan gaung doa yang mungkin pernah bergema di bawah lengkung atap itu.
Sekarang, semua telah berganti suara mesin motor, tapi keheningannya masih terasa sama.

Tempat-tempat seperti ini mengingatkan saya bahwa setiap kota menyimpan lapisan cerita. Sebagian tercatat di buku, sebagian lagi hanya hidup dalam batu nisan, atau dalam foto-foto lama yang kini kita lihat hitam-putih.

Penutup

Setiap langkah di tempat seperti ini selalu mengingatkan saya bahwa waktu boleh berjalan, tapi cerita… tak pernah benar-benar berakhir.

Saya hanyalah penikmat bangunan tua dan kisah yang tersisa.

Jangan Menua Tanpa Cerita – bersama saya, Eko WKS.


Sumber Bacaan & Referensi

1. Arsip foto lama Begraafplaats Kembang Koening – Nationaal Archief Nederland

2. Catatan sejarah Cornelis Citroen & G. H. von Faber – Oud Soerabaia Society

3. Katalog Dornier Wal G-26 crash – Koninklijke Marine Archief

4. Wawancara dan penelusuran sejarah lokal – Baraya Heritage Research Notes

5. Peninjauan langsung ke lapangan hari Rabu, 22 Oktober 2025, bersama komunitas @oudsoerabajahunter